Selasa, 21 April 2015

TAK HANYA SEKEDAR BAGI-BAGI SUSU

(BULETIN KAMPUNG KITA, Tambun Rengas)  Selama ini sebetulnya Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) bertindak atas dasar pemenuhan hak-hak anak lewat metode pemberdayaan komunitas. Hak-hak anak yang menjadi acuan adalah hak anak versi PBB yang dirumuskan dalam Konvensi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada tahun 1989 di Jenewa Swiss. Beberapa hak inti yang dirumuskan adalah; Hak Untuk Berkembang, Hak Untuk Kelangsungan Hidup, Hak Untuk Mendapatkan Perlindungan, Hak Untuk Berpartisipasi. 
Selama ini kita tahu bahwa GNI merupakan yayasan yang “sering bagi-bagi susu” tetapi tahukah anda kenapa GNI melakukan  itu? Jawabanya terkait dengan penjelasan yang ada di paragraf sebelumnya; GNI hendak mengajak warga komunitas (baca: wilayah jangkauan kerja GNI Cakung CDP) untuk bersama-sama memperjuangkan hak anak. Hak anak yang berusaha dipenuhi GNI lewat program pemberian makanan tambahan berupa susu atau makanan bernutrisi dan atau suplemen vitamin (Feeding and Food Aid Program) adalah Hak Untuk Kelangsungan Hidup dan Hak Untuk Berkembang.
Program Feeding sebagai usaha dalam pemenuhan Hak Untuk Kelangsungan Hidup anak  dipenuhi lewat pemberian susu dan atau makanan bernutrisi dengan persyaratan anak harus menggunting kukunya terlebih dahulu. Sedangkan Hak Untuk Berkembang sendiri dipenuhi dalam bentuk pemberian penyadaran kepada siswa/i tentang gaya hidup menjaga kebersihan melalui kegiatan potong kuku bersama sebelum minum susu atau makan makanan bernutrisi bersama. Setiap anak yang berada di SD atau SLTP diperiksa kukunya, dan jika ada yang belum menggunting kukunya maka relawan yang sedang bertugas akan mengajak siswa/i tersebut menggunting kuku dengan meminjamkan gunting kuku yang sudah dibawa sang relawan.


Pemberian susu dan atau makanan tambahan bergizi bagi balita (Food Aid Program), sesungguhnya juga merupakan usaha GNI dalam mengajak pemuda/I setempat untuk  mengajak para kader Posyandu setempat agar semakin giat dalam mengontrol kesehatan balita serta mencoba bersama-sama mencari akar permasalahan kesehatan bagi balita dan mencari solusinya. Selain itu, pemuda/i setempat ini juga  mengajak para kader Posyandu setempat untuk lebih aktif memberi penyadaran para orang tua untuk lebih memilih makanan bernutrisi bagi anak mereka. Harapanya tak lain adalah, agar setelah proyek GNI berkahir warga dapat memperjuangkan Hak Anak Untuk Kelangsungan Hidup  di Tambun Rengas, serta di harapkan warga setempat sudah memiliki kesadaran akan pentingnya memenuhi hak anak-anaknya.
Salah satu yang menjadi ciri khas dalam kegiatan ini adalah; bahwa dalam memperjuangkan hak anak tersebut, GNI juga melakukan metode pemberdayaan komunitas. Pemberdayaan komunitas adalah metode pembangunan yang melibatkan masyarakat dalam belajar bersama untuk kemudian bergotong royong dalam membangun lingkunganya sendiri. Selama proses distribusi dan kegiatan penyadaran kami melibatkan pemuda/i setempat sebagai relawan. Disitulah letak pemberdayaan komunitas, dimana pemuda/i setempat diajak untuk peduli terhadap lingkungan, belajar untuk mempraktekkan ilmu public speaking dalam melakukan dengan pihak yang diajak bekerjasama, serta nantinya belajar untuk melakukan fundraising (pendanaan program atau kegiatan lewat sumbangan donatur).  Tak hanya itu, pemuda/i ini juga diajak untuk berlatih bekerja secara profesional dimana mereka membuat laporan sesudah kegiatan berlangsung.

Pertanyaan yang sering timbul berkaitan dengan Feeding and Food Aid Program ini adalah: “kalo GNI udah kaga ada, sapa nyang mau bagi susu, yak?” sebetulnya ini adalah pertanyaan yang bisa dijawab, dengan catatan: dibutuhkan konsistensi dan profesionalitas dalam memperjuangkanya.  Ya, dana untuk membeli susu bisa kita dapatkan lewat permohonan pendanaan dari perusahaan ataupun lembaga donor. Istilah fundraising merupakan istilah yang mungkin asing di telinga kita, tetapi sebetulnya pengertianya amat sederhana, yaitu “kegiatan penggalangan dana”.
           
Permohonan dana kepada perusahaan ataupun lembaga donor sebetulnya bisa saja dilakukan. Persyaratanya tak lain adalah; kita bisa mengirimkan proposal yang berisi manfaat program, kaitan kegiatan ini dengan kepentingan pemberi dana. Disamping itu, jika memang kegiatan yang hendak dimintakan dana tersebut sudah berjalan sebelumnya, kita harus bisa menunjukan laporan kegiatan sebelum dan sesudah pihak pemberi dana memberikan dananya. Tak lupa tentunya setelah dana dikucurkan, kita harus secara rutin mengirimkan laporan program atau kegiatan secara berkala.

Akhir kata, mari kedepanya kita bersama-sama mulai mengubah kebiasaan kita dalam mengkonsumsi makanan dengan memilih terlebih dahulu makanan atau minuman yang bergizi. Tak lupa, marilah kita saling bergandengan tangan serta menghentikan segala bentuk ghibah dengan mengedepankan musyawarah disertai sikap saling memaafkan dan selalu memperbaiki diri. (SR)


Senin, 20 April 2015

KESEMBUHAN KIKI, KEBAHAGIAAN KITA.



(BULETIN KAMPUNG KITA, Tambun Rengas) Ahmad Riski, bocah berusia 12 tahun warga Tambun Selatan RT 08 RW 08 Cakung Jakarta Timur ini tampak lemas setelah menjalani fisioterapi di Rumah Sakit Khusus Kanker Dharmais, Jakarta bersama ibunya, Maryani.Riski merupakan 1 dari sekian anak-anak indonesia yang saat ini tengah berjuang melawan penyakit yang sedang di deritanya.

Menurut diagnosa Dokter, Riski menderita Histosiosis X, penyakit yang di sebabkan oleh berkembang biaknya sel-sel pembersih yang disebut Histiosit dan sel sistem kekebalan lainnya yang disebut Eosinofil secara abnormal, terutama di tulang dan paru-paru. Tak jarang sel pembersih ini juga menyebabkan terbentuknya jaringan parut. Jenis Histosiosis X yang di derita Kiki termasuk kasus yang jarang di temukan, jenis Histosiosis X nya adalah Hand-Schuller-Christian, pada jenis ini organ yang terkena adalah kelenjar Hipofisa yang bisa menyebabkan penonjolan mata (Baca : eksoftalmos) . Orang tua Kiki, Maryani ( 38 Thn) dan Aman (39 thn) mulanya tidak menyangka kalau kiki menderita penyakit ini.

Awalnya saat kiki berusia tiga tahun,  Kiki hanya merasakan demam karna ada benjolan di bawah matanya, tapi setelah 3 bulan benjolan yang saya kira adalah bisul itu tidak kunjung pecah dan sembuh

ungkap Maryani kepada Buletin Kampung Kita, (11/02/2015) di rumahnya.



 Setelah 3 bulan benjolan dan kemerahan di mata Kiki tak kunjung sembuh, keluarga membawa Kiki untuk berobat ke klinik, di klinik Kiki di beri obat penghilang demam dan tetes mata. Ketika itu demam Kiki hilang tetapi benjolan dan kemerahan di mata Kiki tak kunjung hilang sampai Kiki berusia 4 tahun. Setelah sekian lama barulah keluarga membawa Kiki untuk memeriksakan matanya di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Setelah dilakukan CT Scan dan Biopsi dokter menyatakan kalau Kiki menderita Histosiosis X.

Sampai dengan saat ini Kiki masih melakukan pengobatan, benjolan-benjolan di bawah matanya kini sudah hilang, namun satu mata Kiki sebelah kiri mengalami kebutaan, karna Kiki telah melakukan operasi pengangkatan bola mata. Kiki saat ini juga masih terus melakukan Cemoteraphy untuk mencegah sel-sel kanker menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Biaya yang di keluarkan oleh orang tua Kiki hingga saat ini tidaklah sedikit. Dalam membiayai pengobatan, selama ini keluarga Kiki hanya mengandalkan tanggungan dari asuransi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan), ayah Kiki yang bekerja sebagai tukang ojek hanya berharap akan ada pihak-pihak yang dapat membantu untuk meringankan biaya pengobatan Kiki sehingga Kiki bisa sembuh seperti sediakala.(SR)


MENUJU TAMBUN RENGAS BEBAS CACINGAN




 BULETIN KAMPUNG KITA, TAMBUN RENGAS. “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Pepatah ini memang sangat tepat untuk kita pegang sebagai landasan untuk menjaga kesehatan tubuh. Hal yang sama juga dilakukan oleh Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Cakung CDP. Sebagai organisasi yang memiliki jargon “Kepedulian Kita Bagi Masa Depan Anak”,  GNI menyadari pentingnya pencegahan terhadap suatu penyakit pada anak, sebab salah satu poin hasil Konvensi Hak anak PBB tahun 1989 adalah Hak Untuk Kelangsungan Hidup yang salah satunya adalah mendapatkan pemeriksaan kesehatan.
Beberapa contoh aksi nyata yang dilakukan GNI Cakung CDP yang dilakukan demi memenuhi hak anak adalah ketika pada  tahun 2012 melakukan pemeriksaan kecacingan dan penyuluhan  kepada anak-anak di  2 SD (SDN Cakung Timur 02 Pagi dan SDN Cakung Timur 05 Pagi) dan 1 Madrasah Ibtidaiyah/MI (MI Jauharotul Huda) di wilayah  Tambun Rengas. Event ini dilakukan atas kerjasama dengan Yayasan Kusuma Buana. Dari sini, diperoleh hasil bahwa anak yang terkena penyakit kecacingan < (kurang dari) 10 % . Setelah dilakukan penyuluhan dan pemeriksaan tersebut, GNI Cakung CDP kemudian merasa bahwa perlu kiranya untuk mengetahui keberhasilan dari penyuluhan mengenai penyakit kecacingan tersebut.
16 Maret 2015 hingga 6 April 2015, GNI Cakung CDP pada akhirnya melaksanakan pemeriksaan penyakit kecacingan kembali untuk mengukur tingkat keberhasilan penyuluhan yang dilakukan pada tahun 2012. Masih bekerjasama dengan Yayasan Kusuma Buana, event ini menambahkan jumlah penerima manfaat, yaitu 1 SLTP (Madrasah Tsanawiyah/ MTS), 1 Taman Kanak-kanak, dan 1 PAUD. Adapun rentang umur peserta yang ikut adalah sebanyak 838 anak dari  usia 4-12 tahun.

Pemeriksaan kecacingan ini dilaksanakan mengingat penyakit kecacingan mampu membuat penyerapan nutrisi pada anak terhambat. Padahal, usia sebelum 17 tahun merupakan usia di mana seseorang membutuhkan asupan nutrisi lebih tinggi untuk tumbuh kembangnya. Maka dari itu penyuluhan, pemeriksaan dan pengobatan penyakit kecacingan menjadi amat penting. 
Tahapan acara ini pertama adalah, para penerima manfaat diberikan penyuluhan, selanjutnya, penerima manfaat diberikan tenggang waktu 3 hari untuk menyerahkan sample tinjanya. Sample yang telah diserahkan nantinya akan diperiksa di laboratorium Yayasan Kusuma Buana, dan setelah sekitar dua minggu, hasil sudah bisa didapat. Hingga 7 Maret 2015, 44 dari 838 anak di 5 sekolah terdeteksi menderita kecacingan. Jumlah ini rupanya tidak melebihi 10% dari prevalensi wabah kecacingan, sehingga pemberian obat cacing hanya diberikan kepada anak yang sudah positif dan memiliki gejala kecacingan saja.
Dalam slide materi penyuluhan yang dilakukan Ibu Rini (Yayasan Kusuma Buana), tertulis bahwa kemungkinan yang paling tinggi untuk terkena kecacingan dialami oleh anak usia sekolah dengan persentasi 60-80%. Sementara Kompas.com  menyebutkan bahwa setidaknya “20-30% anak Indonesia menderita kecacingan”.*
Sebagai pihak yang menyadari bahwa dampak kecacingan bagi anak cukup besar, maka perlu kiranya kita melakukan langkah aktif untuk mencegahnya. Karena seperti yang telah dijelaskan di atas, dampak dari kehilangan banyak nutrisi karena diserap oleh cacing yang hidup di dalam usus mampu menurunkan prestasi belajar anak menurun. Jika kita sudah mengetahui dampak buruk dari kecacingan ini bagi anak-anak masa depan bangsa, akankah kita tinggal diam ? (AR)




*http://health.kompas.com/read/2010/07/09/04141339/20.Persen.Anak.Indonesia.Menderita.Cacingan diakses tanggal 7 April 2009 pukul 10. 00 WIB