Senin, 20 April 2015

MENUJU TAMBUN RENGAS BEBAS CACINGAN




 BULETIN KAMPUNG KITA, TAMBUN RENGAS. “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Pepatah ini memang sangat tepat untuk kita pegang sebagai landasan untuk menjaga kesehatan tubuh. Hal yang sama juga dilakukan oleh Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Cakung CDP. Sebagai organisasi yang memiliki jargon “Kepedulian Kita Bagi Masa Depan Anak”,  GNI menyadari pentingnya pencegahan terhadap suatu penyakit pada anak, sebab salah satu poin hasil Konvensi Hak anak PBB tahun 1989 adalah Hak Untuk Kelangsungan Hidup yang salah satunya adalah mendapatkan pemeriksaan kesehatan.
Beberapa contoh aksi nyata yang dilakukan GNI Cakung CDP yang dilakukan demi memenuhi hak anak adalah ketika pada  tahun 2012 melakukan pemeriksaan kecacingan dan penyuluhan  kepada anak-anak di  2 SD (SDN Cakung Timur 02 Pagi dan SDN Cakung Timur 05 Pagi) dan 1 Madrasah Ibtidaiyah/MI (MI Jauharotul Huda) di wilayah  Tambun Rengas. Event ini dilakukan atas kerjasama dengan Yayasan Kusuma Buana. Dari sini, diperoleh hasil bahwa anak yang terkena penyakit kecacingan < (kurang dari) 10 % . Setelah dilakukan penyuluhan dan pemeriksaan tersebut, GNI Cakung CDP kemudian merasa bahwa perlu kiranya untuk mengetahui keberhasilan dari penyuluhan mengenai penyakit kecacingan tersebut.
16 Maret 2015 hingga 6 April 2015, GNI Cakung CDP pada akhirnya melaksanakan pemeriksaan penyakit kecacingan kembali untuk mengukur tingkat keberhasilan penyuluhan yang dilakukan pada tahun 2012. Masih bekerjasama dengan Yayasan Kusuma Buana, event ini menambahkan jumlah penerima manfaat, yaitu 1 SLTP (Madrasah Tsanawiyah/ MTS), 1 Taman Kanak-kanak, dan 1 PAUD. Adapun rentang umur peserta yang ikut adalah sebanyak 838 anak dari  usia 4-12 tahun.

Pemeriksaan kecacingan ini dilaksanakan mengingat penyakit kecacingan mampu membuat penyerapan nutrisi pada anak terhambat. Padahal, usia sebelum 17 tahun merupakan usia di mana seseorang membutuhkan asupan nutrisi lebih tinggi untuk tumbuh kembangnya. Maka dari itu penyuluhan, pemeriksaan dan pengobatan penyakit kecacingan menjadi amat penting. 
Tahapan acara ini pertama adalah, para penerima manfaat diberikan penyuluhan, selanjutnya, penerima manfaat diberikan tenggang waktu 3 hari untuk menyerahkan sample tinjanya. Sample yang telah diserahkan nantinya akan diperiksa di laboratorium Yayasan Kusuma Buana, dan setelah sekitar dua minggu, hasil sudah bisa didapat. Hingga 7 Maret 2015, 44 dari 838 anak di 5 sekolah terdeteksi menderita kecacingan. Jumlah ini rupanya tidak melebihi 10% dari prevalensi wabah kecacingan, sehingga pemberian obat cacing hanya diberikan kepada anak yang sudah positif dan memiliki gejala kecacingan saja.
Dalam slide materi penyuluhan yang dilakukan Ibu Rini (Yayasan Kusuma Buana), tertulis bahwa kemungkinan yang paling tinggi untuk terkena kecacingan dialami oleh anak usia sekolah dengan persentasi 60-80%. Sementara Kompas.com  menyebutkan bahwa setidaknya “20-30% anak Indonesia menderita kecacingan”.*
Sebagai pihak yang menyadari bahwa dampak kecacingan bagi anak cukup besar, maka perlu kiranya kita melakukan langkah aktif untuk mencegahnya. Karena seperti yang telah dijelaskan di atas, dampak dari kehilangan banyak nutrisi karena diserap oleh cacing yang hidup di dalam usus mampu menurunkan prestasi belajar anak menurun. Jika kita sudah mengetahui dampak buruk dari kecacingan ini bagi anak-anak masa depan bangsa, akankah kita tinggal diam ? (AR)




*http://health.kompas.com/read/2010/07/09/04141339/20.Persen.Anak.Indonesia.Menderita.Cacingan diakses tanggal 7 April 2009 pukul 10. 00 WIB
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar